Ini Dia Torakur, Oleh-oleh Khas Bandungan yang Terbuat dari Tomat


Di kawasan objek wisata Bandungan, Kabupaten Semarang, dikenal dengan tahu serasinya. Selain itu, ada satu lagi oleh-oleh khas Bandungan yakni Torakur.

Penasaran dengan Torakur? Ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Bandungan yang bahan utamanya didapatkan dari para petani daerah setempat. Dengan bahan utama tomat, buah ini diolah sedemikian rupa menjadi tiruan kurma yang populer dengan sebutan Tomat Rasa Kurma (Torakur).

Berinovasi dengan menciptakan oleh-oleh khas Bandungan tersebut dilakukan Sri Ngestiwati (56 tahun). Ia mengolah buah tomat yang sangat mudah didapatkan dari kawasan Bandungan sejak tahun 2002. Hal ini berangkat dari saat panen raya dan harga jual anjlok hingga Rp 250 per kilonya. Bahkan, ketika itu petani ada yang enggan memetik dan membiarkan buah memusuk karena saking murahnya harga jualnya.

"Melihat harga tomat yang murah saat itu, kami eman-eman. Kemudian muncul gagasan untuk membuat oleh-oleh khas Bandungan yang bisa dipasarkan di tempat ini dan di tempat lain belum ada," katanya saat ditemui di rumahnya Ampelgading, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Sabtu (26/5).

Berangkat dari hal tersebut, ia pun kemudian berinovasi dan membuat manisan tomat. Manisan tomat yang jadi tersebut awalnya dibawa menuju tempat kerjanya agar teman-temannya mencicipi. Berkat saran dan masukan dari teman, kemudian Torakur dititipkan di sejumlah pedagang di sekitar Bandungan.

"Kalau tahu serasi kan biasanya digoreng di tempat, kemudian Torakur bisa menjadi pendamping untuk oleh-oleh dibawa pulang. Kami cantumkan alamat beserta nomor telepon dan Alhamdulillah hingga sampai sekarang," ujar Sri Ngestiwati yang biasa dipanggil Ngesti, itu.

Adapun cara membuat Torakur yakni pertama-tama buah tomat dipilih yang sudah matang. Kemudian dicuci bersih, terus ditusuk-tusuk dan direndam air kapur. Usai direndam biji tomatnya dikeluarkan dan dibersihkan kembali, kemudian direbus dengan gula pasir.

"Setelah diangkat ditus biar air rebusan hilang, kemudian dijemur di rak kaca hingga setengah kering. Setelah itu dibentuk dan dijemur lagi hingga siap dikemas," tuturnya.

Proses pembuatan dari tomat hingga menjadi Torakur membutuhkan waktu seminggu. Bahkan kini yang membantu pembuatan Torakur ada 8 orang kebanyakan perempuan dan tetangga sekitarnya.

"Mereka tetangga, ada yang anak putus sekolah atau ibu muda. Tiap harinya kami memproduksinya," ujar Ngesti.

Untuk saat ini dalam satu kali peracikan membuat sekitar 2 kuintal tomat. Dan setelah jadi dikemas secara apik dengan ukuran 225 gram serta 500 gram. Sedangkan penjualan di sekitar kawasan Bandungan maupun Semarang, Salatiga maupun daerah lainnya. Dulunya pernah pula mengirim Torakur menuju Bali, namun kini telah berhenti. Sekarang, juga melayani penjualan secara online pula.

"Torakur ini dibuat tanpa menggunakan pewarna, tanpa pengawet, tanpa perasa kurma mampu bertahan selama 6 bulan. Kalau ramai saat arus balik Lebaran maupun akhir tahun. Saat ini stok telah ada," tuturnya.




[detik.com]
Share on Google Plus

About semarang rentcar

0 komentar:

Posting Komentar