Sudah 100 Tahun Lumpia Gang Lombok Jadi Ikon Kuliner Semarang


Lumpia jadi salah satu ikon kuliner Semarang yang populer. Kenal dengan lumpia gang Lombok? Siapa sangka ternyata usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Berkunjung ke kios lumpia Gang Lombok bersama Jelajah Gizi 2018, kami berkesempatan bertemu Untung Utodo, pemilik usaha lumpia Gang Lombok. Pria ini adalah generasi ketiga penerus usaha lumpia khas Semarang.

"Asal mula dari neneknya papi pertama, ia jualan pakai gerobak di Gang Lombok ini. Lalu dilanjutkan papahnya papi (kakek), papi kemudian saya," kata Untung.

Saking lamanya, Untung bahkan tak tahu pasti kapan nenek buyutnya mulai jualan lumpia. "Nggak tau tahunnya tapi yang jelas sudah lebih dari 100 tahun," tegas Untung.

Lumpia Gang Lombok ini memang menempati kios sederhana tapi pengunjungnya banyak dan silih berganti. Ada dua varian lumpia yang tersedia yakni lumpia basah dan lumpia kering.

Untung juga mengatakan banyak orang suka dengan lumpia ini karena rebungnya tidak berbau pesing. Isinya juga banyak, terdiri dari campuran rebung, telur dan ebi.

Resep turun temurun yang digunakan leluhur Untung membuat rasa lumpia ini tak berubah meskipun sudah sangat lama. "Resepnya dari nenek moyang, saya cuma nerusin saja," kata Untung.

Lumpia biasa dimakan langsung atau dicocol dengan saus berwarna kecokelatan dengan rasa manis gurih. Menurut Untung, saus khas ini terbuat dari pati singkong.

Sambil makan, pengunjung bisa juga melihat langsung proses pembuatan lumpia ini. Mulai dari menumis rebung hingga membungkusnya dengan kulit lumpia.

Dalam sehari kios ini mampu menjual 300 buah lumpia di hari kerja. Jumlahnya akan melonjak berkali lipat saat akhir pekan ataupun saat musim libur.

"Biasanya 300 sehari, tapi kalau libur bisa lebih dari 1000. Orang biasa makan langsung tapi juga dibawa buat oleh-oleh," lanjut Untung.

Tak mau menanggung rasa penasaran, kami juga mencoba lumpia ini. Bentuknya gemuk dengan bagian kulit yang renyah. Saat digigit, irisan rebung dan telur langsung berbaur dalam mulut. Enak dan gurih, tak tercium aroma khas rebung yang aneh.

Dimakan saat hangat ternyata lebih enak. Apalagi sambil dicocol saus kental yang berwarna kecoklatan. Kalau suka pedas, boleh makan bersama cabai.




[detik.com]
Share on Google Plus

About semarang rentcar

0 komentar:

Posting Komentar